Thursday, July 17, 2014

Fast Food, Cepat Saji, Cepat Mati ?


Oleh
Fitriyono Ayustaningwarno S.TP., M.Si., MOS

Pembaca yang budiman, anda tentu pernah mendengar apa yang disebut dengan fast food, atau yang diterjemahkan sebagai makanan cepat saji. Sebenarnya apakah itu, mengapa bisa cepat mati ?

Definisi fast food adalah kelompok makanan yang dapat disiapkan dan disajikan dengan waktu yang singkat, atau makanan yang sudah diolah terlebih dahulu. Makanan kelompok ini dipopulerkan di Amerika Serikat pada tahun 1950 dengan restoran atau took yang menjual bahan makanan yang sudah disapkan sebelumnya, dan biasanya dijual kepada konsumen dengan bentuk makan di luar atau dikenal dengan Take Away. Bentuk penjualan tersebut juga popular dengan system penjualan drive through, yaitu pembeli memesan makanan dari dalam mobil, kemudian diambil setelah pengendara melewati tempat pengambilan makanan. Jenis-jenis makanan yang popular pada saat itu adalah hamburger, pie, waffle, pancakes, ayam goreng, pizza, kentang goreng, hot dog, ice cream, donat. Dari sejarah tersebut, masyarakat melabeli bahwa makanan seperti hamburger, ayam goreng, hot dog, donat adalah fast food.

Akan tetapi bila diperhatikan lebih jauh ternyata makanan-makanan khas Indonesia banyak yang termasuk makanan cepat saji. Salah panganan yang terkenal di Indonesia adalah gorengan. Sebuah jenis panganan yang dibuat dari nyaris apapun, dari tahu, hingga pisang, semua bahan tersebut digoreng dalam waktu yang singkat, yang kemudian dijajakan ke pada konsumen. Warteg juga salah satu contoh fast food lokal. Makanan yang dijajakan di situ semuanya sudah diolah dan siap dipilih oleh konsumen.

Label buruk yang tersemat pada kelompok makanan cepat saji sebenarnya berasal dari makanan seperti hamburger, hot dog, pizza, kentang goreng, dan minuman soda. Jika dilakukan analisis berkaitan hamburger, hot dog, dan pizza maka kesamaan produk tersebut adalah tinggi lemak, protein, dan karbohidrat. Sedangkan minuman soda biasanya mengandung gula sederhana dengan konsentrasi tinggi. Makanan dan minuman tersebut di Amerika memiliki harga yang sangat rendah dibandingkan dengan sayuran maupun buah-buahan segar. Hal ini disebabkan oleh politik perdagangan dan pertanian yang menebabkan harga jagung dan olahannya, beserta daging menjadi sangat murah. Amerika menerapkan kebijakan dimana memungkinkan petani menghasilkan jagung dengan harga yang luarbiasa murah. Jagung tersebut dapat diolah menjadi berbagai macam produk termasuk gula untuk bahan baku minuman bersoda, sehingga harganya sangat murah. Jagung juga dijadikan makanan ternak, sehingga dapat menghasilkan daging yang murah. Daging murah tersebut akan mengasilkan hamburger yang murah. Terlebih dengan industrialisasi makanan cepat saji, menghasilkan makanan dalam jumlah banyak, yang ujungnya adalah produk yang sangat murah. Makanan yang murah ini menjadi makanan utama dalam kegiatan sehari-hari masyarakat pekerja di Amerika. Pola diet seperti ini akan menghasilkan pola konsumsi tinggi lemak, protein dan karbohidrat, akan tetapi rendah vitamin dan mineral. Pola konsumsi seperti ini sangat beresiko terkena tekanan darah tinggi dan penyakit jantung koroner. Hal ini disebabkan oleh tingginya konsumsi lemak jenuh yang banyak terdapat pada daging yang dikonsumsi, dan tingginya konsumsi karbohidrat sederhana akan memicu insensitifitas insulin, yang pada akhirnya memicu diabetes mellitus. Rendahnya konsumsi sayur dan buah yang kaya vitamin dan minelar akan mengurangi keelastisitasan pembuluh darah dan kemampuan menangkal radikal bebas akibat konsumsi makanan tinggi lemak.

Fast food di Indonesia kondisinya sedikit berbeda. Banyaknya gerai waralaba fast food asing yang masuk menyebabkan makanan-makanan tinggi protein, lemak karbohidrat tersebut juga masuk di Indonesia. Bedanya adalah harganya yang menjadi mahal. Dengan harga yang mahal tersebut menjadikan makanan jenis ini hanya dapat dinikmati oleh konsumen menengah ke atas. Konsumsi makanan tersebut menjadi status sosial. akan tetapi fast food level menengah ke bawah kondisinya lebih memprihatinkan, gorengan diolah dengan kebersihan rendah dan proses yang tidak terjamin. Seringkali minyak yang digunakan untuk menggoreng telah digunakan puluhan kali dan sering sengaja ditambahkan plastic. Hal ini selain menyebabkan gorengan menjadi panganan yang tinggi minyak, juga mengandung plastic yang sangat berbahaya bagi tubuh.


Pola konsumsi makanan yang seimbang sangat dianjurkan untuk memperoleh kesehatan prima. Konsumsi makanan fast food yang sebenarnya tinggi nutrisi itu dibolehkan dengan jumlah yang tidak berlebihan dan tidak terlalu sering. Akan tetapi perlu diimbangi oleh konsumsi sayuran dan buah. Pola konsumsi tersebut menjadi bagian dari empat pilar gizi seimbang yang terdiri dari makan bervariasi sesuai kebutuhan, aktivitas fisik secara teratur dan terukur, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, dan juga mempertahankan berat badan ideal.

tulisan ini sudah dipublikasikan di majalah Kinetika, Media Press Kampus Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Edisi XLIII Maret 2013






No comments:

Post a Comment